(Sepenggal Catatan Perjalanan Di Pegunungan Kapur Utara)
(Catatan Angin Malam) - Perlahan dan pasti, moncong pesawat memasuki langit di Bandara Udara Internasional Ahmad Yani, Semarang. Terdengar suara kapten menginformasikan bahwa sebentar lagi pesawat akan segera mendarat di Kota Semarang. "Para penumpang yang terhormat, sebentar lagi kita akan mendarat di Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang, mohon tetap ditempat hingga tanda kenakan sabuk pengaman dimatikan," demikian informasi sang Kapten, standar yang selalu terdengar menjelang pendaratan di Bandara.
![]() |
Suasana malam di Alun-Alun Kota Rembang, pedagang menjadi rapih dengan
tenda yang diatur sedemikian rupa dan dihibahkan oleh PT Semen Indonesia
kepada pedagang melalui Pemerintah Rembang
|
Sebelum menyentuh bumi, sempat terlihat di kejauhan dua gugus perbukitan di arah timur yang teridentifikasi sebagai Pegunungan Kendeng dan Pegunungan Kapur Utara, keduanya ada di kawasan Kabupaten Rembang. Pegunungan yang tengah ramai menjadi perbincangan para pakar lingkungan, ahli hidrologi, aktivis hingga politisi dan ekonom karena keberadaan sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang pengoperasiannya sedang dihadang oleh sejumlah orang yang mengaku sebagai aktivis lingkungan. Dengan berbagai alasan, mulai dari merusak lingkungan hingga menihilkan nilai strategis industri semen bagi kesejahteraan warga sekitarnya. Tapi intinya, gerakan penolakan itu makin membesar gaungnya dengan satu fokus utama,"Tolak Semen".
Perjalanan udara, kini berganti menjadi perjalanan darat dari Semarang menuju Rembang. "Kira-kira 3 jam mas, kita sudah sampai kantor Bupati Rembang," ujar Ahmad, sopir mobil rental yang menjemput kami sejak di Bandara.
Usai menembus macetnya lalulintas Kota Semarang, mobil melaju kencang diatas jalan mulus melintasi 4 Kabupaten di Jawa Tengah yaitu Demak, Kendal, Juwana dan Pati sebelum masuk ke Rembang. Kanan kiri jalan, pemandangan terlihat hijau dan kadang melintasi pesisir pantai utara Jawa dengan pemandangan sawah dan pepohonan. Berbeda saat masuk ke perbatasan Rembang, bau anyir air laut menyeruak diantara dashboard mobil. Rupanya aroma tambak garamlah yang menyebabkan bau itu, sebab memang kawasan Rembang ini terkenal sebagai penghasil garam terbesar di Jawa Tengah sehingga sempat mendapatkan predikat "Kota Garam".
Ada Semen Indonesia Di Alun-Alun Kota Rembang
Sampai di pusat Kota Rembang, mencari hotel untuk tempat menyusun rencana kegiatan bukan hal sulit. Banyak sekali hotel dari kelas bintang 4 sampai losmen tersedia. Kami memilih hotel dekat Museum Kartini dan Sekolah Kartini yang bersejarah, dekat alun-alun Rembang. Sebuah hotel tepat berada didepannya, dengan tarif cukup murah meriah, sesuai juga dengan fasilitasnya tentu saja. Sambil check-in, sempat kami bertanya pada pemilik hotel perihal penolakan warga Rembang terhadap pabrik semen BUMN di sana.
![]() |
| Logo Semen Indonesia di tenda pedagang dan UMKM di Rembang |
"Ah kalo soal itu sih relatif ya mas, tapi kalau menurut saya selama pabrik itu bisa membawa kesejahteraan buat rakyat kenapa harus ditolak," ujar Niken, Ibu pemilik Hotel itu. Ia sendiri mengaku lebih memilih bersikap netral atas masalah itu, meski ia juga heran isu semen itu begitu heboh di media massa nasional seolah semua warga menolak berdirinya pabrik semen di Rembang.
"Padahal ya enggak begitu lah mas, saya termasuk tidak menolak kok. Kalau bicara soal kerusakan lingkungan kan sudah ada ahli yang bisa memperhitungkan dampaknya sehingga bisa dicegah, tapi ya itu hak mereka kalau mau menolak," ungkap Niken. Kami sempat terkejut dengan ungkapan Ibu Niken, karena dugaan kami mayoritas warga Rembang pasti menolak.
"Ah bisa saja ibu ini bersikap begitu karena tak berada di lokasi Ring 1, sehingga ia tak menolak pabrik semen," kataku dalam hati.
Malam itu, kami putuskan berjalan-jalan menikmati sajian malam Rembang di Alun-Alun dengan berharap menemukan informasi dari sudut berbeda. Karena letaknya yang tak terlampau jauh, kami berjalan kaki saja ke lokasi selain karena supirnya enggan diajak jalan karena kelelahan yang mendera sehingga punggung dana matanya tak sanggup lagi diajak bersenang-senang.
"Ramai juga ya, kirain sepi nih Rembang," gumamku pada temanku. Hilir mudik pengunjung alun-alun malam ini, memang tak mengesankan bahwa Rembang adalah Kabupaten dengan PAD terendah ketiga di Jawa Tengah.
Saat pandangan kami bereksplorasi menjelajah kawasan alun-alun mencari tempat makan yang bisa memanjakan perut kami malam ini, mata ini terantuk pada atap-atap tenda para pedagang disana. Betapa tidak, tenda-tenda itu ternyata seragam warna dan bentuknya sehingga terlihat rapih. Tak hanya itu, logo BUMN yang sedang menjadi kontroversi itu 'nangkring' dengan manisnya di setiap tenda. Para pedagang itu, berjualan dibawah tenda berlogo Semen Indonesia (SI) yang memang diberikan sebagai program CSR BUMN itu di Rembang, pemberdayaan pedagang dan UMKM di Rembang.
"Ini memang diberikan SI kepada Pemerintah Rembang, supaya pedagang disini bisa lebih rapih jadi tidak awut-awutan mas," ujar Anto, sebut saja begitu, seorang pedagang nasi goreng di sana. Menurutnya, semua pedagang bisa memakai tenda itu secara gratis asal mendaftar kepada pemerintah. Ia mengakui, ada dampak positif setelah lokasi berdagang dirapihkan. "Pengunjung jadi lebih senang datang, karena jadi rapih dan nyaman untuk makan," ujar lelaki muda itu.
Kami kembali heran, hebohnya berita penolakan kepada pabrik semen di Rembang yang mengatasnamakan warga Rembang dan sampai mengecor kaki di depan Istana Negara, Jakarta, tak ada pengaruh apapun bagi sikap mayoritas warga Rembang. Hati kami semakin penasaran, siapa sebenarnya mereka yang menolak pabrik semen di Rembang itu. Karena itu, malam ini kami segera memutuskan untuk melanjutkan perjalanan esok pagi ke lereng bukit kapur di wilayah Ring 1 pembangunan dan penambangan pabrik semen BUMN itu. Sekarang biarlah nasi goreng yang nikmat ini kami habiskan dulu, sebelum berangkat tidur di hotel kami.
Bersambung...


Tidak ada komentar:
Posting Komentar