(Catatan Angin Malam) - Gema azan subuh yang khas menyambut kehadiran kami, suara panggilan ilahi yang selalu
menggegaskan langkah kami puluhan tahun silam di tempat yang sama. Tapi suara saat ini berbeda, sebab itu bukan lantunan azan dari Mang Uju
yang lantang atau suara khas Ustadz Sunajaya yang lembut. Itu suara yang
berbeda, tapi substansinya tetap sama
memanggil manusia untuk bersujud kepada Allah,
Sang Khalik Rabbul Jalaal.
Sisa hujan dalam butiran halus serupa embun, menerpa wajah lelah kami yang penat namun
rindu suasana masa lalu dengan berbagai sukadukanya. Tak ada lagi jalan becek dan 'ndeblok', entah apa terjemah istilah itu untuk
menggantikan makna tanah liat yang bandel menempel di sandal dan kaki kami saat
berjalan menuju masjid. Kini, Muhajirun
sudah bersolek dengan aspal hitam sehingga komoditas sepatu boot sudah bergeser
pangsanya kepada para penduduk yang bertani saja.
Tak ada lagi lapangan bola,
tempat kami berlatih beladiri karate bersama Sempai Arif, Ozy,
Komeng dan kawan-kawan yang didaulat menjadi guru kami. Namun yang tak pernah terlupakan, adalah sempai karate pertama di
Al-Fatah, bahkan menjadi guru dari Arif, Ozy dan Komeng adalah Odhon atau Ibnu
Romadhon, santri asal Bogor. Meski
berwajah sangar, namun hatinya lembut. Istilahnya "muka Rambo hati Rinto",
hatinya bisa selembut kak Seto jika bertemu muslimah. he he.
Lapangan ini juga menjadi sumber keceriaan, saat beberapa
'maniak' bola mempertontonkan gaya ala pemain bola dunia. Pokoknya kalau sdh
diatas rumput, mereka akan dirasuki oleh
arwah David Beckham atau pun lainnya,
sehingga tak hirau betapa sepatu lapuk atau kaki 'nyeker' yang mereka
pakai untuk menyepak bola yang serupa dengan sepatunya, lapuk.
Sedikit gairah,
ketika para santriwati melintas ditepi lapangan dan memicu gaya-gaya
yang lebih aneh dari sebelumnya dari para atlet Al-Fatah. Bisa jadi,
kejadian itu memang sudah disetting sedemikian agar pas momentumnya.
"Pas gue bergaya, pas ada
santriwati idola gue lewat."
Yah, lapangan itu
sudah berganti menjadi bakal Masjid terbesar di Propinsi Lampung, An-Nubuwwah,
yang sekaligus menggantikan peran Masjid Taqwa yang telah menjadi pusat
goresan ribuan kenangan kami disana. Ada
makna pembelajaran, ada makna
religius, namun juga banyak makna humor
yang menyempurnakan makna asmara yang kadang turut tersirat dan menyelinap
dalam aktifitas santri.
Perlahan dan pasti,
semburat sinar mentari pagi berpendar menyebar diantara pucuk dedaunan
yang basah oleh hujan dan embun. Sinar
mentari jingga itu juga yang mengusir kabut tipis yang semula berayun diantara
rumah dan pepohonan, sirna menjadi
kecerahan beriring semerbak wangi bunga kopi.
Pagi yang sejuk ini, masih ada di
Muhajirun dan tetap dapat dinikmati oleh Alumnus yang beruntung tiba di pagi
hari. Beruntung, sebab banyak kawan-kawan alumni lainnya masih
terjebak berjibaku dengan kebosanan menyeberangi Selat Sunda atau juga mereka
yang duduk di kendaraan menempuh perjalanan panjang Bakauheni-Natar.
Beberapa dari kami yang tiba pagi itu, menyempatkan menikmati hawa pagi yang indah
itu. Hawa pagi yang juga membawa kami
dari status santri, kini menjadi alumni.
Hebatnya, meski sudah jadi alumni
namun saat bersua dengan kawan sekelas dulu,
seolah hari perpisahan itu tak pernah terjadi. Gelak tawa dan candaan konyol yang dahulu
kembali lagi sepertinya kami ini masih aktif jadi santri. Ada semacam ritual
"membongkar dosa" masa lalu,
saat kami berjalan berkeliling kampung Muhajirun ini. Dimana lokasi dulu kami biasa bersembunyi
untuk melakukan pelanggaran aturan, dari
mulai membolos sambil merokok hingga 'taqrobuzzina' atau berkhalwat dengan
pujaan hati. Ketika tertangkap dan
mendapatkan tahkiman, kami memang sempat
malu dan sakit hati dahulu. Namun hari
ini, semua tahkiman itu menjadi kenangan
terindah yang pernah tergores disini,
Pondok Pesantren Al-Fatah Muhajirun Lampung.
Reuni asmara lama
Setelah puluhan tahun kami berpisah, bahkan sudah beranak-pinak dan tersebar di
seantero jagat nusantara, bahkan
dunia, ternyata tak bisa menghapus
kenangan terindah yang pernah tercuplik dimasa silam, masa Aliyah yang penuh warna. Ada yang terkekeh dengan ingatan saat kami
tergopoh-gopoh memenuhi panggilan marosim pukul 7.00 pagi, padahal baru saja
menyelesaikan sarapan nasi goreng dengan telur bercampur terigu. Ada juga berseliweran diantara ingatan
kami, soal beberapa kami yang ditahkim
akibat pelanggaran semalam hingga paginya.
Ada dosa tidak ikut tadarus magrib,
atau tertangkap basah merokok di kebun singkong belakang asrama. Yah,
memang kenangan pahit akan menjadi indah saat ini bila dijalani dengan
kerelaan tanpa dendam.
Namun, diantara
ribuan kenangan itu nyatanya mayoritas adalah kenangan soal 'asmara masa
silam', dimana kami bertindak sangat
konyol untuk merefleksikan perasaan terdalam yang merupakan fitrah insani, yaitu rasa cinta. Selembar surat cinta dengan buih-buih rayuan
gombal, kerap dipakai untuk alat bertukar pesan rasa. Maklum,
di masa para generasi alumni tua belum hadir Handphone untuk kirim SMS
atau WA, jadi murni masih menggunakan
jasa pos khusus titipan kilat. Jika beruntung,
pesan itu akan dibaca oleh 'akhwat' yang dituju. Namun bila sial, maka siap-siaplah kepala ini akan digundul
habis karena surat itu dijegal dan dibaca oleh Ustadz yang biasanya akan
diteruskan pada amir Kesantrian. Lebih
sial lagi, surat itu dibacakan secara
umum dalam marosim pagi sehingga semua santri menjadi saksi betapa gombalnya
rayuan kami saat itu.
Namun, ada juga
diantara kami yang sedikit kreatif mengirim sinyal hati melalui lukisan wajah sang
idola. Sayangnya, sinyal itu hanya dibalas pesan apresiatif
formil berupa ucapan terima kasih dan semua berjalan kembali tanpa terjadi
"kuch kuch hotta hei" ala film Bollywood oleh Shahruk Khan. Meski begitu,
kehebatan cinta memang adalah kerelaan agar sang pujaan hati berbahagia
meski tak harus bersama dan memberi tanpa harus menerima kembali.
Dan kebanyakan dari semua kisah asmara lama itu, adalah kisah kasih yang tak sampai sebab
paska menjadi alumni, kami menyebar
dengan masing-masing aktifitas hidup dan akhirnya, menemukan jodohnya sendiri. Mereka yang beruntung menikah dengan idolanya
dulu, bisa jadi karena ngotot agar takdir cintanya bisa berjalan sesuai rencananya.
Tapi hidup memang harus realistis pada takdir, sebab semua itu mesti harus
dilewati sebagai sebuah proses hidup.
Dan saat ini, dalam
reuni akbar 2016 yang menyatukan semua angkatan sejak 1995 yang baru merasakan
listrik masuk kampung, hingga angkatan
2015 yang masih kinyis-kinyis, sisi-sisi
humanis asmara lama itu tetap ingin muncul walau tak mungkin berharap
terwujudnya. Kenangan itu
dimunculkan, agar reuni ini terasa manis
meski kekecewaan juga tersirat sebab sohib-sohib lama kami banyak yang tak bisa
hadir. Padahal, kami ingin merevieuw ulang kenangan saat dulu
membakar singkong atau turun ke rawa-rawa dan balong mencari kecot dan belut.
Benar, bagi kami yang sudah puluhan tahun keluar dari
sini, Muhajirun adalah salah satu museum
dan monumen terindah dalam sebuah fase kehidupan kami. Setiap sudut
Muhajirun, menyimpan makna terdalam yang
tergores dalam episode hidup kami dahulu.
Goresan yang tak semata urusan santri,
namun juga kami memahami betapa berat perjuangan para asatidz di
sini. Perjuangan menjaga keikhlasan
mencurahkan ilmu dan kasih sayang,
berbareng dengan perjuangan agar dapur tetap menyala dan tak serupa
pemakaman yang sepi akibat tungku tak menyalakan api.
Harapan agar almamater tercinta ini maju, untuk menembus dinding-dinding dunia
seharusnya memang dimulai dari menumbuhkan kecintaan alumni pada almamaternya
dan mengikat mereka agar tak tercerai-berai meski berada disudut dunia
manapun. Menjadi catatan, bahwa hingga saat ini Alumni Al-Fatah yang
sudah berusia 20 tahun ini, ternyata tak
pernah memiliki Mars Alumni yang lazim dimiliki organisasi alumni. Padahal mars itu gunanya adalah menumbuhkan rasa cinta dan peduli serta
memiliki pada almamater yang telah mendorongnya pada kesuksesan hari ini.
Belum lagi media website yang seharusnya hidup dan menjadi
rujukan kegiatan alumni di manapun, atau
sosial media yang menyatukan meski hanya di dunia maya, namun terbukti efektif menggalang massa untuk
hadir.
Tahun 2016 ini,
angkatan 1998 yang mendapat nama Mujahid Ahlus Suffah Daurah Arrobi'ah
atau Mashdar kembali memegang tampuk pimpinan Ikatan Alumni (IKA) Al-Fatah
dengan Fathurrahman BR sebagai pucuknya.
Ia didapuk sebagai Ketua, setelah
resmi mendapatkan amanat Imaamul Muslimin sebagai realisasi hasil sidang
alumni. Kita berharap, kembalinya
Mashdar memimpin IKA Al-Fatah akan membawa dampak signifikan bagi dukungan atas
almamater dan juga Al-Jama'ah dalam menggelorakan semangat jihad pembebasan
Al-Aqsa.
Adapun bicara soal asmara lama, itu hanya sebuah lintasan sejarah yang hanya
cukup dinikmati sebagai kenangan sahaja.
Tak perlu menggagas untuk membentuk badan khusus CLBK (Cinta Lama
Bersemi Kembali), he he he, bercanda saja.
Perjalanan Rajabasa-Bakauheni
14 Desember 2016
Si Angin Malam


Tidak ada komentar:
Posting Komentar