Rabu, 25 Januari 2017

Sebuah Goresan 98 Dari Muhajirun

(Catatan Angin Malam) - Gema azan subuh yang khas menyambut kehadiran kami,  suara panggilan ilahi yang selalu menggegaskan langkah kami puluhan tahun silam di tempat yang sama.  Tapi suara saat ini berbeda,  sebab itu bukan lantunan azan dari Mang Uju yang lantang atau suara khas Ustadz Sunajaya yang lembut. Itu suara yang berbeda,  tapi substansinya tetap sama memanggil manusia untuk bersujud kepada Allah,  Sang Khalik Rabbul Jalaal.

Sisa hujan dalam butiran halus serupa embun,  menerpa wajah lelah kami yang penat namun rindu suasana masa lalu dengan berbagai sukadukanya.  Tak ada lagi jalan becek dan 'ndeblok',  entah apa terjemah istilah itu untuk menggantikan makna tanah liat yang bandel menempel di sandal dan kaki kami saat berjalan menuju masjid. Kini,  Muhajirun sudah bersolek dengan aspal hitam sehingga komoditas sepatu boot sudah bergeser pangsanya kepada para penduduk yang bertani saja.

Tak ada lagi lapangan bola,  tempat kami berlatih beladiri karate bersama Sempai Arif,  Ozy,  Komeng dan kawan-kawan yang didaulat menjadi guru kami.  Namun yang tak pernah terlupakan,  adalah sempai karate pertama di Al-Fatah,  bahkan menjadi guru dari Arif,  Ozy dan Komeng adalah Odhon atau Ibnu Romadhon, santri asal Bogor.  Meski berwajah sangar,  namun hatinya lembut.  Istilahnya "muka Rambo hati Rinto", hatinya bisa selembut kak Seto jika bertemu muslimah. he he.

Lapangan ini juga menjadi sumber keceriaan, saat beberapa 'maniak' bola mempertontonkan gaya ala pemain bola dunia. Pokoknya kalau sdh diatas rumput,  mereka akan dirasuki oleh arwah David Beckham atau pun lainnya,  sehingga tak hirau betapa sepatu lapuk atau kaki 'nyeker' yang mereka pakai untuk menyepak bola yang serupa dengan sepatunya,  lapuk.

Sedikit gairah,  ketika para santriwati melintas ditepi lapangan dan memicu gaya-gaya yang lebih aneh dari sebelumnya dari para atlet Al-Fatah.  Bisa jadi,  kejadian itu memang sudah disetting sedemikian agar pas momentumnya. "Pas gue bergaya,  pas ada santriwati idola gue lewat."

Yah,  lapangan itu sudah berganti menjadi bakal Masjid terbesar di Propinsi Lampung,  An-Nubuwwah,  yang sekaligus menggantikan peran Masjid Taqwa yang telah menjadi pusat goresan ribuan kenangan kami disana.  Ada makna pembelajaran,  ada makna religius,  namun juga banyak makna humor yang menyempurnakan makna asmara yang kadang turut tersirat dan menyelinap dalam aktifitas santri.

Perlahan dan pasti,  semburat sinar mentari pagi berpendar menyebar diantara pucuk dedaunan yang basah oleh hujan dan embun.  Sinar mentari jingga itu juga yang mengusir kabut tipis yang semula berayun diantara rumah dan pepohonan,  sirna menjadi kecerahan beriring semerbak wangi bunga kopi.  Pagi yang sejuk ini,  masih ada di Muhajirun dan tetap dapat dinikmati oleh Alumnus yang beruntung tiba di pagi hari.  Beruntung,  sebab banyak kawan-kawan alumni lainnya masih terjebak berjibaku dengan kebosanan menyeberangi Selat Sunda atau juga mereka yang duduk di kendaraan menempuh perjalanan panjang Bakauheni-Natar.

Beberapa dari kami yang tiba pagi itu,  menyempatkan menikmati hawa pagi yang indah itu.  Hawa pagi yang juga membawa kami dari status santri, kini menjadi alumni.  Hebatnya,  meski sudah jadi alumni namun saat bersua dengan kawan sekelas dulu,  seolah hari perpisahan itu tak pernah terjadi.  Gelak tawa dan candaan konyol yang dahulu kembali lagi sepertinya kami ini masih aktif jadi santri. Ada semacam ritual "membongkar dosa" masa lalu,  saat kami berjalan berkeliling kampung Muhajirun ini.  Dimana lokasi dulu kami biasa bersembunyi untuk melakukan pelanggaran aturan,  dari mulai membolos sambil merokok hingga 'taqrobuzzina' atau berkhalwat dengan pujaan hati.  Ketika tertangkap dan mendapatkan tahkiman,  kami memang sempat malu dan sakit hati dahulu.  Namun hari ini,  semua tahkiman itu menjadi kenangan terindah yang pernah tergores disini,  Pondok Pesantren Al-Fatah Muhajirun Lampung.

Reuni asmara lama

Setelah puluhan tahun kami berpisah,  bahkan sudah beranak-pinak dan tersebar di seantero jagat nusantara,  bahkan dunia,  ternyata tak bisa menghapus kenangan terindah yang pernah tercuplik dimasa silam,  masa Aliyah yang penuh warna.  Ada yang terkekeh dengan ingatan saat kami tergopoh-gopoh memenuhi panggilan marosim pukul 7.00 pagi, padahal baru saja menyelesaikan sarapan nasi goreng dengan telur bercampur terigu.  Ada juga berseliweran diantara ingatan kami,  soal beberapa kami yang ditahkim akibat pelanggaran semalam hingga paginya.  Ada dosa tidak ikut tadarus magrib,  atau tertangkap basah merokok di kebun singkong belakang asrama.  Yah,  memang kenangan pahit akan menjadi indah saat ini bila dijalani dengan kerelaan tanpa dendam.

Namun,  diantara ribuan kenangan itu nyatanya mayoritas adalah kenangan soal 'asmara masa silam',  dimana kami bertindak sangat konyol untuk merefleksikan perasaan terdalam yang merupakan fitrah insani,  yaitu rasa cinta.  Selembar surat cinta dengan buih-buih rayuan gombal, kerap dipakai untuk alat bertukar pesan rasa.  Maklum,  di masa para generasi alumni tua belum hadir Handphone untuk kirim SMS atau WA,  jadi murni masih menggunakan jasa pos khusus titipan kilat. Jika beruntung,  pesan itu akan dibaca oleh 'akhwat' yang dituju.  Namun bila sial,  maka siap-siaplah kepala ini akan digundul habis karena surat itu dijegal dan dibaca oleh Ustadz yang biasanya akan diteruskan pada amir Kesantrian.  Lebih sial lagi,  surat itu dibacakan secara umum dalam marosim pagi sehingga semua santri menjadi saksi betapa gombalnya rayuan kami saat itu.

Namun,  ada juga diantara kami yang sedikit kreatif mengirim sinyal hati melalui lukisan wajah sang idola.  Sayangnya,  sinyal itu hanya dibalas pesan apresiatif formil berupa ucapan terima kasih dan semua berjalan kembali tanpa terjadi "kuch kuch hotta hei" ala film Bollywood oleh Shahruk Khan.  Meski begitu,  kehebatan cinta memang adalah kerelaan agar sang pujaan hati berbahagia meski tak harus bersama dan memberi tanpa harus menerima kembali.

Dan kebanyakan dari semua kisah asmara lama itu,  adalah kisah kasih yang tak sampai sebab paska menjadi alumni,  kami menyebar dengan masing-masing aktifitas hidup dan akhirnya,  menemukan jodohnya sendiri.  Mereka yang beruntung menikah dengan idolanya dulu, bisa jadi karena ngotot agar takdir cintanya bisa berjalan sesuai rencananya. Tapi hidup memang harus realistis pada takdir, sebab semua itu mesti harus dilewati sebagai sebuah proses hidup.

Dan saat ini,  dalam reuni akbar 2016 yang menyatukan semua angkatan sejak 1995 yang baru merasakan listrik masuk kampung,  hingga angkatan 2015 yang masih kinyis-kinyis,  sisi-sisi humanis asmara lama itu tetap ingin muncul walau tak mungkin berharap terwujudnya.  Kenangan itu dimunculkan,  agar reuni ini terasa manis meski kekecewaan juga tersirat sebab sohib-sohib lama kami banyak yang tak bisa hadir.  Padahal,  kami ingin merevieuw ulang kenangan saat dulu membakar singkong atau turun ke rawa-rawa dan balong mencari kecot dan belut.

Benar, bagi kami yang sudah puluhan tahun keluar dari sini,  Muhajirun adalah salah satu museum dan monumen terindah dalam sebuah fase kehidupan kami. Setiap sudut Muhajirun,  menyimpan makna terdalam yang tergores dalam episode hidup kami dahulu.  Goresan yang tak semata urusan santri,  namun juga kami memahami betapa berat perjuangan para asatidz di sini.  Perjuangan menjaga keikhlasan mencurahkan ilmu dan kasih sayang,  berbareng dengan perjuangan agar dapur tetap menyala dan tak serupa pemakaman yang sepi akibat tungku tak menyalakan api.

Harapan agar almamater tercinta ini maju,  untuk menembus dinding-dinding dunia seharusnya memang dimulai dari menumbuhkan kecintaan alumni pada almamaternya dan mengikat mereka agar tak tercerai-berai meski berada disudut dunia manapun.  Menjadi catatan,  bahwa hingga saat ini Alumni Al-Fatah yang sudah berusia 20 tahun ini,  ternyata tak pernah memiliki Mars Alumni yang lazim dimiliki organisasi alumni.  Padahal mars itu gunanya adalah  menumbuhkan rasa cinta dan peduli serta memiliki pada almamater yang telah mendorongnya pada kesuksesan hari ini. 

Belum lagi media website yang seharusnya hidup dan menjadi rujukan kegiatan alumni di manapun,  atau sosial media yang menyatukan meski hanya di dunia maya,  namun terbukti efektif menggalang massa untuk hadir.

Tahun 2016 ini,  angkatan 1998 yang mendapat nama Mujahid Ahlus Suffah Daurah Arrobi'ah atau Mashdar kembali memegang tampuk pimpinan Ikatan Alumni (IKA) Al-Fatah dengan Fathurrahman BR sebagai pucuknya.  Ia didapuk sebagai Ketua,  setelah resmi mendapatkan amanat Imaamul Muslimin sebagai realisasi hasil sidang alumni. Kita berharap,  kembalinya Mashdar memimpin IKA Al-Fatah akan membawa dampak signifikan bagi dukungan atas almamater dan juga Al-Jama'ah dalam menggelorakan semangat jihad pembebasan Al-Aqsa.

Adapun bicara soal asmara lama,  itu hanya sebuah lintasan sejarah yang hanya cukup dinikmati sebagai kenangan sahaja.  Tak perlu menggagas untuk membentuk badan khusus CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali),  he he he,  bercanda saja. 

Perjalanan Rajabasa-Bakauheni
14 Desember 2016


Si Angin Malam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar