![]() |
| Air Terjun Pasucen, Sebuah Keindahan Tersembunyi Di Rembang (CAM) |
(Catatan Angin Malam) - Pukul 03.30 WIB Dinihari alarm dari handphone berbunyi nyaring, melantunkan nyanyian "Ilir-Ilir" dari Grup Kiyai Kanjeng milik Emha Ainun Najib yang sedikit bernuansa mistis religius. Meski masih mengantuk, terpaksalah aku bangkit mencari dimana lokasi suara itu dengan mata setengah terpejam. "Aduh lupa, setel alarmnya kepagian," gumamku dihati.
Entah tidur kami yang terlalu larut, atau saking lelahnya tubuh akibat perjalanan seharian meliput kejadian di Kota Rembang, membuat kelopak mata seolah benda yang sangat berat menindih kepala. Aku kembali terpejam, senyap sesaat hilang dalam mimpi-mimpi tentang Rembang.
Azan subuh dari Masjid Raya Rembang bergema nyaring, menelusup ke kamar-kamar dan kepala yang ada di balik bantal. Aku sudah terbangun seperempat jam lalu, yah lumayan sekedar melaksanakan 3 rakaat witir yang memang hampir tak pernah ku tinggalkan kecuali sakit atau kelelahan sangat mendera. Hikmahnya, sangat memberikan inspirasi dalam pemikiran dan juga kesegaran tubuh, entahlah bagi orang lain.
Sopir dan rekan Tim ku, baru bangun jam 05.30 WIB, setelah bergantian mandi kami keluar mencari sarapan di lobby hotel sederhana ini. "Semangkuk Lontong Tuyuhan khas Rembang, pedas nih," kata temanku. Ia dan sopir menyantap sarapan, segera setelah menyeruput secangkir kopi panas.
"Jadi kemana kita mas?" ujar Ahmad, si Sopir. Setengah cangkir kopi sudah ia pindahkan dalam perutnya, sisanya masih menunggu waktu berangkat menuju lokasi yang dituju. Sesekali, asap putih dari rokok mengepul keluar dari mulut mereka mengiringi masuknya sarapan dan kopi pagi itu kedalam urat dan dagingnya.
"Ke Tegaldowo, katanya itu daerah ring 1 dekat pabrik semen yang banyak warganya konon menolak," ujarku tegas. Nama Tegaldowo sendiri sebenarnya sudah mashur dikenal, sejak kasus penolakan atas berdirinya pabrik semen disana merebak hingga ke media di Jakarta. Bahkan, salah satu tokohnya yang dikenal dari desa Tegaldowo bernama Joko Prianto dan Sukinah yang mengaku sebagai petani asli sana, tak pernah absen dalam aksi-aksi demo yang terekam di media.
Yang sedikit aneh, bercampur kagum bagiku adalah kepiawaian mereka dalam memainkan isu di sosial media. Baik itu di Facebook maupun Twitter dan Instagram, isu soal penolakan pabrik semen memenuhi ruang-ruang sosial media semisal gerakan massif yang menggambarkan gerakan kaum proletar melawan golongan borjuis. Tak terbayangkan, dari desa 'Galdowo' sebagai nama lain Tegaldowo yang dikenal sangat pelosok dan tertinggal, namun bisa menembus media-media nasional seperti Kompas dan CNN Indonesia, belum lagi media lainnya.
Sawah subur dan lahan tadah hujan.
Mobil Toyota Avanza yang kami naiki mulai menuju kecamatan Gunem, arah Tegaldowo. Perjalanan berlangsung mulus, sebab hitamnya aspal sangat lembut dipijak roda-roda mobil. Dibanding kawasan urban pinggiran Jakarta, aku menilai malah lebih baik jalan aspal di Rembang ini, nyaris tanpa lubang. Sepanjang jalan, pepohonan dan pertanian berdiri menghias perkampungan seolah menyambut kedatangan kami. Meski demikian, warna kuning yang bercampur di tanah tak mungkin menghilangkan jejak bahwa kawasan Rembang ini adalah tanah berkapur.
![]() |
| Pertanian hasil irigasi waduk Pasucen |
"Oh, ternyata bukan hanya pabrik semen yang melakukan penambangan disini," ujarku.
Terbayang sudah, betapa berat beban bumi Rembang yang hampir tiap hari dikeruk perutnya menyisakan lubang-lubang putih menganga. Belum lagi ancaman banjir bandang yang akan menerjang pemukiman saat hujan besar, lantaran air tak lagi tertampung dan langsung tandas dari permukaan tambang menuju perkampungan dibawahnya. Tak adil memang, jika hanya pabrik semen yang disalahkan jika terjadi bencana banjir atau kekeringan yang dikhawatirkan oleh pihak yang menolak atau sering disebut "Kontra Semen". Justeru, penambang liar itulah yang kerap lebih sulit ditertibkan.
Sebelum memasuki lokasi penduduk Tegaldowo, kami sempat melewati pintu masuk menuju lokasi tapak pabrik Semen Indonesia. Tampak beberapa tenda sederhana berdiri disana, berisikan beberapa orang ibu-ibu yang tengah mengobrol dan juga beberapa laki-laki yang tampaknya ikut berjaga disana. Tulisan bernada penolakan atas berdirinya pabrik semen disana, menandakan bahwa tenda itu adalah tenda milik pihak kontra tempat bersemayamnya 9 Kartini Kendeng. Lucunya, tak jauh disebelahnya tampak berdiri juga tenda dengan tulisan bernada mendukung bedirinya pabrik tersebut. Yang paling lucu, diantara mereka tak tampak sedikitpun rona dan suasana permusuhan lantaran berbeda visi soal berdirinya pabrik semen.
Kami hanya melihat sekilas saja, karena tak ingin terlampau asyik mengungkap kelucuan fakta di gerbang pabrik semen ini. Mobil kembali melaju, semakin naik dan menanjak menapaki kerikil dan bebatuan jalanan desa. Terkadang jalanan itu halus berbatu, namun juga kadang bebatuan besar mengharuskan kami memperlambat kendaraan. Disisi lain, kadang harus berhenti saat berpapasan karena badan mobil tak bisa dipaksa memuat 2 kendaraan sekaligus. Jika nekad, jurang disebelah kiri jalan jadi resiko utama untuk terperosok ke bawah sana.
Jelang masuk perkampungan di Desa Pasucen, tikungan "Ciluk-Ba" menyambut kami. Nama itu digunakan penduduk, lantaran kondisi tikungan cukup berbahaya dengan kontur menurun dan berbelok membentuk huruf S. Karena itu, jika tak waspada dan ada kendaraan lain yang masuk bisa berakibat fatal. Tentu kami tak mau ambil resiko itu, apalagi sebagai pendatang yang tak tahu kondisi jalan itu.
![]() |
| Pak Syakri menunjukan lokasi Waduk Pasucen |
Kondisi berbeda justeru terlihat saat kami memasuki Desa Tegaldowo, yang persawahannya tak terjamah oleh air irigasi dari waduk pasucen itu. Sawah di sana hanyalah mengandalkan air hujan atau dikenal sebagai sawah tadah hujan. Jelas, tak ada suara air gemericik di pematang sehingga daun-daun padi terlihat kecil. Belum lagi ancaman gagal panen, akibat tak pastinya air hujan membasahi lahan tersebut. Yah itulah karakteristik pegunungan lahan karst, tandus tak berair. Tanpa irigasi, hanyalah pohon jati yang sanggup bertahan hidup lama dan produktif di alam semacam itu.
Entah dimana lahan pertanian tokoh kontra bernama Joko Prianto itu, sehingga ia begitu ngotot menolak berdirinya pabrik semen dengan alasan mengancam lahan pertanian dan ketersediaan air. Padahal, jauh sebelum pabrik semen berdiri warga disana sudah terbiasa meng-"angsu" air dari mata air yang terletak dibawah sana, dengan jarak tempuh rata-rata 500-700 meter.
"Justeru warga beruntung, dengan hadirnya pabrik semen memberikan pompa yang mendorong air sampai ke rumah-rumah kami. Kini warga tak payah lagi untuk mengambil air, cukup sediakan selang air maka kebutuhan bisa terpenuhi," ungkap Syakri, seorang tokoh di Desa Pasucen.
![]() |
| Batas lokasi sawah terakhir, sebelum masuk hutan jati lalu ke pabrik semen. |
(bersambung)








