Selasa, 07 Februari 2017

Semen Dicaci, Semen Dicari (Bagian 2)

Air Terjun Pasucen, Sebuah Keindahan Tersembunyi Di Rembang (CAM)


(Catatan Angin Malam) - Pukul 03.30 WIB Dinihari alarm dari handphone berbunyi nyaring, melantunkan nyanyian "Ilir-Ilir" dari Grup Kiyai Kanjeng milik Emha Ainun Najib yang sedikit bernuansa mistis religius. Meski masih mengantuk, terpaksalah aku bangkit mencari dimana lokasi suara itu dengan mata setengah terpejam. "Aduh lupa, setel alarmnya kepagian," gumamku dihati.

Entah tidur kami yang terlalu larut, atau saking lelahnya tubuh akibat perjalanan seharian meliput kejadian di Kota Rembang, membuat kelopak mata seolah benda yang sangat berat menindih kepala. Aku kembali terpejam, senyap sesaat hilang dalam mimpi-mimpi tentang Rembang.

Azan subuh dari Masjid Raya Rembang bergema nyaring, menelusup ke kamar-kamar dan kepala yang ada di balik bantal. Aku sudah terbangun seperempat jam lalu, yah lumayan sekedar melaksanakan 3 rakaat witir yang memang hampir tak pernah ku tinggalkan kecuali sakit atau kelelahan sangat mendera. Hikmahnya, sangat memberikan inspirasi dalam pemikiran dan juga kesegaran tubuh, entahlah bagi orang lain.

Sopir dan rekan Tim ku, baru bangun jam 05.30 WIB, setelah bergantian mandi kami keluar mencari sarapan di lobby hotel sederhana ini. "Semangkuk Lontong Tuyuhan khas Rembang, pedas nih," kata temanku. Ia dan sopir menyantap sarapan, segera setelah menyeruput secangkir kopi panas.

"Jadi kemana kita mas?" ujar Ahmad, si Sopir. Setengah cangkir kopi sudah ia pindahkan dalam perutnya, sisanya masih menunggu waktu berangkat menuju lokasi yang dituju. Sesekali, asap putih dari rokok mengepul keluar dari mulut mereka mengiringi masuknya sarapan dan kopi pagi itu kedalam urat dan dagingnya.

"Ke Tegaldowo, katanya itu daerah ring 1 dekat pabrik semen yang banyak warganya konon menolak," ujarku tegas. Nama Tegaldowo sendiri sebenarnya sudah mashur dikenal, sejak kasus penolakan atas berdirinya pabrik semen disana merebak hingga ke media di Jakarta. Bahkan, salah satu tokohnya yang dikenal dari desa Tegaldowo bernama Joko Prianto dan Sukinah yang mengaku sebagai petani asli sana, tak pernah absen dalam aksi-aksi demo yang terekam di media. 

Yang sedikit aneh, bercampur kagum bagiku adalah kepiawaian mereka dalam memainkan isu di sosial media. Baik itu di Facebook maupun Twitter dan Instagram, isu soal penolakan pabrik semen memenuhi ruang-ruang sosial media semisal gerakan massif yang menggambarkan gerakan kaum proletar melawan golongan borjuis. Tak terbayangkan, dari desa 'Galdowo' sebagai nama lain Tegaldowo yang dikenal sangat pelosok dan tertinggal, namun bisa menembus media-media nasional seperti Kompas dan CNN Indonesia, belum lagi media lainnya.

Sawah subur dan lahan tadah hujan.

Mobil Toyota Avanza yang kami naiki mulai menuju kecamatan Gunem, arah Tegaldowo. Perjalanan berlangsung mulus, sebab hitamnya aspal sangat lembut dipijak roda-roda mobil. Dibanding kawasan urban pinggiran Jakarta, aku menilai malah lebih baik jalan aspal di Rembang ini, nyaris tanpa lubang. Sepanjang jalan, pepohonan dan pertanian berdiri menghias perkampungan seolah menyambut kedatangan kami. Meski demikian, warna kuning yang bercampur di tanah tak mungkin menghilangkan jejak bahwa kawasan Rembang ini adalah tanah berkapur.


Pertanian hasil irigasi waduk Pasucen
Sekitar hampir satu jam perjalanan, ternyata tanpa disadari mobil telah menempuh jalanan menanjak hingga tahu-tahu kami ada di perbukitan. Ukuran jalan juga semakin mengecil, hingga kehati-hatian adalah hal yang sangat vital bagi pengendara. Pasalnya, lalu lalang truk pengangkut bebatuan kapur dari perbukitan semakin ramai. Menurut warga yang kami tanyai, truk-truk itu berasal dari penambangan yang dikelola oleh perusahaan swasta yang memproduksi keramik dan juga penambangan liar lainnya. 

"Oh, ternyata bukan hanya pabrik semen yang melakukan penambangan disini," ujarku.

Terbayang sudah, betapa berat beban bumi Rembang yang hampir tiap hari dikeruk perutnya menyisakan lubang-lubang putih menganga. Belum lagi ancaman banjir bandang yang akan menerjang pemukiman saat hujan besar, lantaran air tak lagi tertampung dan langsung tandas dari permukaan tambang menuju perkampungan dibawahnya. Tak adil memang, jika hanya pabrik semen yang disalahkan jika terjadi bencana banjir atau kekeringan yang dikhawatirkan oleh pihak yang menolak atau sering disebut "Kontra Semen". Justeru, penambang liar itulah yang kerap lebih sulit ditertibkan.

Sebelum memasuki lokasi penduduk Tegaldowo, kami sempat melewati pintu masuk menuju lokasi tapak pabrik Semen Indonesia. Tampak beberapa tenda sederhana berdiri disana, berisikan beberapa orang ibu-ibu yang tengah mengobrol dan juga beberapa laki-laki yang tampaknya ikut berjaga disana. Tulisan bernada penolakan atas berdirinya pabrik semen disana, menandakan bahwa tenda itu adalah tenda milik pihak kontra tempat bersemayamnya 9 Kartini Kendeng. Lucunya, tak jauh disebelahnya tampak berdiri juga tenda dengan tulisan bernada mendukung bedirinya pabrik tersebut. Yang paling lucu, diantara mereka tak tampak sedikitpun rona dan suasana permusuhan lantaran berbeda visi soal berdirinya pabrik semen.

Kami hanya melihat sekilas saja, karena tak ingin terlampau asyik mengungkap kelucuan fakta di gerbang pabrik semen ini. Mobil kembali melaju, semakin naik dan menanjak menapaki kerikil dan bebatuan jalanan desa. Terkadang jalanan itu halus berbatu, namun juga kadang bebatuan besar mengharuskan kami memperlambat kendaraan. Disisi lain, kadang harus berhenti saat berpapasan karena badan mobil tak bisa dipaksa memuat 2 kendaraan sekaligus. Jika nekad, jurang disebelah kiri jalan jadi resiko utama untuk terperosok ke bawah sana.

Jelang masuk perkampungan di Desa Pasucen, tikungan "Ciluk-Ba" menyambut kami. Nama itu digunakan penduduk, lantaran kondisi tikungan cukup berbahaya dengan kontur menurun dan berbelok membentuk huruf S. Karena itu, jika tak waspada dan ada kendaraan lain yang masuk bisa berakibat fatal. Tentu kami tak mau ambil resiko itu, apalagi sebagai pendatang yang tak tahu kondisi jalan itu.


Pak Syakri menunjukan lokasi Waduk Pasucen
Jalanan kampung mulai masuk areal pertanian dan persawahan, "Ijo Royo-Royo" dan terlihat aktifitas khas petani disana. Untuk diketahui, persawahan di Desa Pasucen ini dibasahi dengan air yang berasal dari waduk Pasucen yang letaknya diatas bukit. Karena itu, hasil pertaniannya sangat subur dan bisa panen minimal 2 kali sehari. Itu terlihat dari daun-daun padi yang besar dan panjang, dan gemericik air mengalir di sela-sela pematangnya.

Kondisi berbeda justeru terlihat saat kami memasuki Desa Tegaldowo, yang persawahannya tak terjamah oleh air irigasi dari waduk pasucen itu. Sawah di sana hanyalah mengandalkan air hujan atau dikenal sebagai sawah tadah hujan. Jelas, tak ada suara air gemericik di pematang sehingga daun-daun padi terlihat kecil. Belum lagi ancaman gagal panen, akibat tak pastinya air hujan membasahi lahan tersebut. Yah itulah karakteristik pegunungan lahan karst, tandus tak berair. Tanpa irigasi, hanyalah pohon jati yang sanggup bertahan hidup lama dan produktif di alam semacam itu.

Entah dimana lahan pertanian tokoh kontra bernama Joko Prianto itu, sehingga ia begitu ngotot menolak berdirinya pabrik semen dengan alasan mengancam lahan pertanian dan ketersediaan air. Padahal, jauh sebelum pabrik semen berdiri warga disana sudah terbiasa meng-"angsu" air dari mata air yang terletak dibawah sana, dengan jarak tempuh rata-rata 500-700 meter. 

"Justeru warga beruntung, dengan hadirnya pabrik semen memberikan pompa yang mendorong air sampai ke rumah-rumah kami. Kini warga tak payah lagi untuk mengambil air, cukup sediakan selang air maka kebutuhan bisa terpenuhi," ungkap Syakri, seorang tokoh di Desa Pasucen. 


Batas lokasi sawah terakhir, sebelum masuk hutan jati lalu ke pabrik semen.
Syakri bahkan berani mengajak kami melihat langsung lokasi waduk di Pasucen, yang mengairi sawah-sawah desa itu. Ia juga mengajak kami melihat, dimana batas antara lahan pertanian dengan tapak pabrik dari ketinggian yang kami bisa lihat semuanya. Benar saja, dari atas air terjun Pasucen tampak jelas bahwa lahan sawah terakhir berjarak 3 kilometer sebelum dibatasi oleh hutan jati hingga ke tepi bangunan pabrik. Sungguh heran, sebenarnya lahan pertanian apa yang sedang dikhawatirkan akan rusak tergusur oleh berdirinya pabrik Semen Indonesia di Rembang? 

(bersambung) 

Kamis, 26 Januari 2017

Semen Dicaci, Semen Dicari (Bagian 1)

(Sepenggal Catatan Perjalanan Di Pegunungan Kapur Utara)

(Catatan Angin Malam) - Perlahan dan pasti, moncong pesawat memasuki langit di Bandara Udara Internasional Ahmad Yani, Semarang. Terdengar suara kapten menginformasikan bahwa sebentar lagi pesawat akan segera mendarat di Kota Semarang. "Para penumpang yang terhormat, sebentar lagi kita akan mendarat di Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang, mohon tetap ditempat hingga tanda kenakan sabuk pengaman dimatikan," demikian informasi sang Kapten, standar yang selalu terdengar menjelang pendaratan di Bandara.

Suasana malam di Alun-Alun Kota Rembang, pedagang menjadi rapih dengan
 tenda yang diatur sedemikian rupa dan dihibahkan oleh PT Semen Indonesia 
kepada pedagang melalui Pemerintah Rembang
Sebelum menyentuh bumi, sempat terlihat di kejauhan dua gugus perbukitan di arah timur yang teridentifikasi sebagai Pegunungan Kendeng dan Pegunungan Kapur Utara, keduanya ada di kawasan Kabupaten Rembang. Pegunungan yang tengah ramai menjadi perbincangan para pakar lingkungan, ahli hidrologi, aktivis hingga politisi dan ekonom karena keberadaan sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang pengoperasiannya sedang dihadang oleh sejumlah orang yang mengaku sebagai aktivis lingkungan. Dengan berbagai alasan, mulai dari merusak lingkungan hingga menihilkan nilai strategis industri semen bagi kesejahteraan warga sekitarnya. Tapi intinya, gerakan penolakan itu makin membesar gaungnya dengan satu fokus utama,"Tolak Semen".

Perjalanan udara, kini berganti menjadi perjalanan darat dari Semarang menuju Rembang. "Kira-kira 3 jam mas, kita sudah sampai kantor Bupati Rembang," ujar Ahmad, sopir mobil rental yang menjemput kami sejak di Bandara.

Usai menembus macetnya lalulintas Kota Semarang, mobil melaju kencang diatas jalan mulus melintasi 4 Kabupaten di Jawa Tengah yaitu Demak, Kendal, Juwana dan Pati sebelum masuk ke Rembang. Kanan kiri jalan, pemandangan terlihat hijau dan kadang melintasi pesisir pantai utara Jawa dengan pemandangan sawah dan pepohonan. Berbeda saat masuk ke perbatasan Rembang, bau anyir air laut menyeruak diantara dashboard mobil. Rupanya aroma tambak garamlah yang menyebabkan bau itu, sebab memang kawasan Rembang ini terkenal sebagai penghasil garam terbesar di Jawa Tengah sehingga sempat mendapatkan predikat "Kota Garam". 

Ada Semen Indonesia Di Alun-Alun Kota Rembang

Sampai di pusat Kota Rembang, mencari hotel untuk tempat menyusun rencana kegiatan bukan hal sulit. Banyak sekali hotel dari kelas bintang 4 sampai losmen tersedia. Kami memilih hotel dekat Museum Kartini dan Sekolah Kartini yang bersejarah, dekat alun-alun Rembang. Sebuah hotel tepat berada didepannya, dengan tarif cukup murah meriah, sesuai juga dengan fasilitasnya tentu saja. Sambil check-in, sempat kami bertanya pada pemilik hotel perihal penolakan warga Rembang terhadap pabrik semen BUMN di sana.

Logo Semen Indonesia di tenda pedagang dan UMKM di Rembang
"Ah kalo soal itu sih relatif ya mas, tapi kalau menurut saya selama pabrik itu bisa membawa kesejahteraan buat rakyat kenapa harus ditolak," ujar Niken, Ibu pemilik Hotel itu. Ia sendiri mengaku lebih memilih bersikap netral atas masalah itu, meski ia juga heran isu semen itu begitu heboh di media massa nasional seolah semua warga menolak berdirinya pabrik semen di Rembang.

"Padahal ya enggak begitu lah mas, saya termasuk tidak menolak kok. Kalau bicara soal kerusakan lingkungan kan sudah ada ahli yang bisa memperhitungkan dampaknya sehingga bisa dicegah, tapi ya itu hak mereka kalau mau menolak," ungkap Niken. Kami sempat terkejut dengan ungkapan Ibu Niken, karena dugaan kami mayoritas warga Rembang pasti menolak. 

"Ah bisa saja ibu ini bersikap begitu karena tak berada di lokasi Ring 1, sehingga ia tak menolak pabrik semen," kataku dalam hati.

Malam itu, kami putuskan berjalan-jalan menikmati sajian malam Rembang di Alun-Alun dengan berharap menemukan informasi dari sudut berbeda. Karena letaknya yang tak terlampau jauh, kami berjalan kaki saja ke lokasi selain karena supirnya enggan diajak jalan karena kelelahan yang mendera sehingga punggung dana matanya tak sanggup lagi diajak bersenang-senang.

"Ramai juga ya, kirain sepi nih Rembang," gumamku pada temanku. Hilir mudik pengunjung alun-alun malam ini, memang tak mengesankan bahwa Rembang adalah Kabupaten dengan PAD terendah ketiga di Jawa Tengah. 

Saat pandangan kami bereksplorasi menjelajah kawasan alun-alun mencari tempat makan yang bisa memanjakan perut kami malam ini, mata ini terantuk pada atap-atap tenda para pedagang disana. Betapa tidak, tenda-tenda itu ternyata seragam warna dan bentuknya sehingga terlihat rapih. Tak hanya itu, logo BUMN yang sedang menjadi kontroversi itu 'nangkring' dengan manisnya di setiap tenda. Para pedagang itu, berjualan dibawah tenda berlogo Semen Indonesia (SI) yang memang diberikan sebagai program CSR BUMN itu di Rembang, pemberdayaan pedagang dan UMKM di Rembang.

"Ini memang diberikan SI kepada Pemerintah Rembang, supaya pedagang disini bisa lebih rapih jadi tidak awut-awutan mas," ujar Anto, sebut saja begitu, seorang pedagang nasi goreng di sana. Menurutnya, semua pedagang bisa memakai tenda itu secara gratis asal mendaftar kepada pemerintah. Ia mengakui, ada dampak positif setelah lokasi berdagang dirapihkan. "Pengunjung jadi lebih senang datang, karena jadi rapih dan nyaman untuk makan," ujar lelaki muda itu.

Kami kembali heran, hebohnya berita penolakan kepada pabrik semen di Rembang yang mengatasnamakan warga Rembang dan sampai mengecor kaki di depan Istana Negara, Jakarta, tak ada pengaruh apapun bagi sikap mayoritas warga Rembang. Hati kami semakin penasaran, siapa sebenarnya mereka yang menolak pabrik semen di Rembang itu. Karena itu, malam ini kami segera memutuskan untuk melanjutkan perjalanan esok pagi ke lereng bukit kapur di wilayah Ring 1 pembangunan dan penambangan pabrik semen BUMN itu. Sekarang biarlah nasi goreng yang nikmat ini kami habiskan dulu, sebelum berangkat tidur di hotel kami. 

Bersambung...

Rabu, 25 Januari 2017

Sebuah Goresan 98 Dari Muhajirun

(Catatan Angin Malam) - Gema azan subuh yang khas menyambut kehadiran kami,  suara panggilan ilahi yang selalu menggegaskan langkah kami puluhan tahun silam di tempat yang sama.  Tapi suara saat ini berbeda,  sebab itu bukan lantunan azan dari Mang Uju yang lantang atau suara khas Ustadz Sunajaya yang lembut. Itu suara yang berbeda,  tapi substansinya tetap sama memanggil manusia untuk bersujud kepada Allah,  Sang Khalik Rabbul Jalaal.

Sisa hujan dalam butiran halus serupa embun,  menerpa wajah lelah kami yang penat namun rindu suasana masa lalu dengan berbagai sukadukanya.  Tak ada lagi jalan becek dan 'ndeblok',  entah apa terjemah istilah itu untuk menggantikan makna tanah liat yang bandel menempel di sandal dan kaki kami saat berjalan menuju masjid. Kini,  Muhajirun sudah bersolek dengan aspal hitam sehingga komoditas sepatu boot sudah bergeser pangsanya kepada para penduduk yang bertani saja.

Tak ada lagi lapangan bola,  tempat kami berlatih beladiri karate bersama Sempai Arif,  Ozy,  Komeng dan kawan-kawan yang didaulat menjadi guru kami.  Namun yang tak pernah terlupakan,  adalah sempai karate pertama di Al-Fatah,  bahkan menjadi guru dari Arif,  Ozy dan Komeng adalah Odhon atau Ibnu Romadhon, santri asal Bogor.  Meski berwajah sangar,  namun hatinya lembut.  Istilahnya "muka Rambo hati Rinto", hatinya bisa selembut kak Seto jika bertemu muslimah. he he.

Lapangan ini juga menjadi sumber keceriaan, saat beberapa 'maniak' bola mempertontonkan gaya ala pemain bola dunia. Pokoknya kalau sdh diatas rumput,  mereka akan dirasuki oleh arwah David Beckham atau pun lainnya,  sehingga tak hirau betapa sepatu lapuk atau kaki 'nyeker' yang mereka pakai untuk menyepak bola yang serupa dengan sepatunya,  lapuk.

Sedikit gairah,  ketika para santriwati melintas ditepi lapangan dan memicu gaya-gaya yang lebih aneh dari sebelumnya dari para atlet Al-Fatah.  Bisa jadi,  kejadian itu memang sudah disetting sedemikian agar pas momentumnya. "Pas gue bergaya,  pas ada santriwati idola gue lewat."

Yah,  lapangan itu sudah berganti menjadi bakal Masjid terbesar di Propinsi Lampung,  An-Nubuwwah,  yang sekaligus menggantikan peran Masjid Taqwa yang telah menjadi pusat goresan ribuan kenangan kami disana.  Ada makna pembelajaran,  ada makna religius,  namun juga banyak makna humor yang menyempurnakan makna asmara yang kadang turut tersirat dan menyelinap dalam aktifitas santri.

Perlahan dan pasti,  semburat sinar mentari pagi berpendar menyebar diantara pucuk dedaunan yang basah oleh hujan dan embun.  Sinar mentari jingga itu juga yang mengusir kabut tipis yang semula berayun diantara rumah dan pepohonan,  sirna menjadi kecerahan beriring semerbak wangi bunga kopi.  Pagi yang sejuk ini,  masih ada di Muhajirun dan tetap dapat dinikmati oleh Alumnus yang beruntung tiba di pagi hari.  Beruntung,  sebab banyak kawan-kawan alumni lainnya masih terjebak berjibaku dengan kebosanan menyeberangi Selat Sunda atau juga mereka yang duduk di kendaraan menempuh perjalanan panjang Bakauheni-Natar.

Beberapa dari kami yang tiba pagi itu,  menyempatkan menikmati hawa pagi yang indah itu.  Hawa pagi yang juga membawa kami dari status santri, kini menjadi alumni.  Hebatnya,  meski sudah jadi alumni namun saat bersua dengan kawan sekelas dulu,  seolah hari perpisahan itu tak pernah terjadi.  Gelak tawa dan candaan konyol yang dahulu kembali lagi sepertinya kami ini masih aktif jadi santri. Ada semacam ritual "membongkar dosa" masa lalu,  saat kami berjalan berkeliling kampung Muhajirun ini.  Dimana lokasi dulu kami biasa bersembunyi untuk melakukan pelanggaran aturan,  dari mulai membolos sambil merokok hingga 'taqrobuzzina' atau berkhalwat dengan pujaan hati.  Ketika tertangkap dan mendapatkan tahkiman,  kami memang sempat malu dan sakit hati dahulu.  Namun hari ini,  semua tahkiman itu menjadi kenangan terindah yang pernah tergores disini,  Pondok Pesantren Al-Fatah Muhajirun Lampung.

Reuni asmara lama

Setelah puluhan tahun kami berpisah,  bahkan sudah beranak-pinak dan tersebar di seantero jagat nusantara,  bahkan dunia,  ternyata tak bisa menghapus kenangan terindah yang pernah tercuplik dimasa silam,  masa Aliyah yang penuh warna.  Ada yang terkekeh dengan ingatan saat kami tergopoh-gopoh memenuhi panggilan marosim pukul 7.00 pagi, padahal baru saja menyelesaikan sarapan nasi goreng dengan telur bercampur terigu.  Ada juga berseliweran diantara ingatan kami,  soal beberapa kami yang ditahkim akibat pelanggaran semalam hingga paginya.  Ada dosa tidak ikut tadarus magrib,  atau tertangkap basah merokok di kebun singkong belakang asrama.  Yah,  memang kenangan pahit akan menjadi indah saat ini bila dijalani dengan kerelaan tanpa dendam.

Namun,  diantara ribuan kenangan itu nyatanya mayoritas adalah kenangan soal 'asmara masa silam',  dimana kami bertindak sangat konyol untuk merefleksikan perasaan terdalam yang merupakan fitrah insani,  yaitu rasa cinta.  Selembar surat cinta dengan buih-buih rayuan gombal, kerap dipakai untuk alat bertukar pesan rasa.  Maklum,  di masa para generasi alumni tua belum hadir Handphone untuk kirim SMS atau WA,  jadi murni masih menggunakan jasa pos khusus titipan kilat. Jika beruntung,  pesan itu akan dibaca oleh 'akhwat' yang dituju.  Namun bila sial,  maka siap-siaplah kepala ini akan digundul habis karena surat itu dijegal dan dibaca oleh Ustadz yang biasanya akan diteruskan pada amir Kesantrian.  Lebih sial lagi,  surat itu dibacakan secara umum dalam marosim pagi sehingga semua santri menjadi saksi betapa gombalnya rayuan kami saat itu.

Namun,  ada juga diantara kami yang sedikit kreatif mengirim sinyal hati melalui lukisan wajah sang idola.  Sayangnya,  sinyal itu hanya dibalas pesan apresiatif formil berupa ucapan terima kasih dan semua berjalan kembali tanpa terjadi "kuch kuch hotta hei" ala film Bollywood oleh Shahruk Khan.  Meski begitu,  kehebatan cinta memang adalah kerelaan agar sang pujaan hati berbahagia meski tak harus bersama dan memberi tanpa harus menerima kembali.

Dan kebanyakan dari semua kisah asmara lama itu,  adalah kisah kasih yang tak sampai sebab paska menjadi alumni,  kami menyebar dengan masing-masing aktifitas hidup dan akhirnya,  menemukan jodohnya sendiri.  Mereka yang beruntung menikah dengan idolanya dulu, bisa jadi karena ngotot agar takdir cintanya bisa berjalan sesuai rencananya. Tapi hidup memang harus realistis pada takdir, sebab semua itu mesti harus dilewati sebagai sebuah proses hidup.

Dan saat ini,  dalam reuni akbar 2016 yang menyatukan semua angkatan sejak 1995 yang baru merasakan listrik masuk kampung,  hingga angkatan 2015 yang masih kinyis-kinyis,  sisi-sisi humanis asmara lama itu tetap ingin muncul walau tak mungkin berharap terwujudnya.  Kenangan itu dimunculkan,  agar reuni ini terasa manis meski kekecewaan juga tersirat sebab sohib-sohib lama kami banyak yang tak bisa hadir.  Padahal,  kami ingin merevieuw ulang kenangan saat dulu membakar singkong atau turun ke rawa-rawa dan balong mencari kecot dan belut.

Benar, bagi kami yang sudah puluhan tahun keluar dari sini,  Muhajirun adalah salah satu museum dan monumen terindah dalam sebuah fase kehidupan kami. Setiap sudut Muhajirun,  menyimpan makna terdalam yang tergores dalam episode hidup kami dahulu.  Goresan yang tak semata urusan santri,  namun juga kami memahami betapa berat perjuangan para asatidz di sini.  Perjuangan menjaga keikhlasan mencurahkan ilmu dan kasih sayang,  berbareng dengan perjuangan agar dapur tetap menyala dan tak serupa pemakaman yang sepi akibat tungku tak menyalakan api.

Harapan agar almamater tercinta ini maju,  untuk menembus dinding-dinding dunia seharusnya memang dimulai dari menumbuhkan kecintaan alumni pada almamaternya dan mengikat mereka agar tak tercerai-berai meski berada disudut dunia manapun.  Menjadi catatan,  bahwa hingga saat ini Alumni Al-Fatah yang sudah berusia 20 tahun ini,  ternyata tak pernah memiliki Mars Alumni yang lazim dimiliki organisasi alumni.  Padahal mars itu gunanya adalah  menumbuhkan rasa cinta dan peduli serta memiliki pada almamater yang telah mendorongnya pada kesuksesan hari ini. 

Belum lagi media website yang seharusnya hidup dan menjadi rujukan kegiatan alumni di manapun,  atau sosial media yang menyatukan meski hanya di dunia maya,  namun terbukti efektif menggalang massa untuk hadir.

Tahun 2016 ini,  angkatan 1998 yang mendapat nama Mujahid Ahlus Suffah Daurah Arrobi'ah atau Mashdar kembali memegang tampuk pimpinan Ikatan Alumni (IKA) Al-Fatah dengan Fathurrahman BR sebagai pucuknya.  Ia didapuk sebagai Ketua,  setelah resmi mendapatkan amanat Imaamul Muslimin sebagai realisasi hasil sidang alumni. Kita berharap,  kembalinya Mashdar memimpin IKA Al-Fatah akan membawa dampak signifikan bagi dukungan atas almamater dan juga Al-Jama'ah dalam menggelorakan semangat jihad pembebasan Al-Aqsa.

Adapun bicara soal asmara lama,  itu hanya sebuah lintasan sejarah yang hanya cukup dinikmati sebagai kenangan sahaja.  Tak perlu menggagas untuk membentuk badan khusus CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali),  he he he,  bercanda saja. 

Perjalanan Rajabasa-Bakauheni
14 Desember 2016


Si Angin Malam

Aku Angin Malam



Yah itulah aku si angin malam, yang selalu hadir memberikan kesejukan dalam kegelapan dan mendinginkan panasnya suasana yang tersisa dari siang hari. Aku berjalan dan mencatat perjalanan si angin siang dalam blog ini.


Aku berjalan dari barat ke timur, dari utara ke selatan dan dari laut ke darat serta sebaliknya. Tak berharap insan akan mengingat dan memahami siapa diriku, namun hanya ingin ada kebaikan dalam kehidupan di dunia.



Jadi, nikmati saja apa yang tercatat di blog ini sebagai sebuah kejujuran angin malam. Catatan yang menjadi saksi atas apa yang terjadi di siang hari.